Minggu, 29 Januari 2012

Kromatografi Kolom


                             KROMATOGRAFI KOLOM

I. TUJUAN
Mempelajari cara pemisahan suatu campuran dengan kromotografi kolom.
II. TEORI
Kromatografi kolom adalah suatu metode pemisahan yang di dasarkan pada pemisahan daya adsorbsi suatu adsorben  terhadap suatu senyawa, baik pengotornya maupun hasil isolasinya. Sebelumnya dilakukan percobaan tarhadap kromatografi lapis tipis sebagai pencari kondisi eluen. Misalnya apsolsi yang cocok dengan pelarut yang baik sehingga antara pengotor dan hasil isolasinya terpisah secara sempurna.
Alat yang diinginkan adalah kolom gelas yang diisi dengan zat padat aktif seperti alumino dan selika gel sebagai fase diam. Zat yang dimasukan lewat puncak kolom akan mengalir kedalam zat penyerap. Zat diserap dari larutan secara sempurna oleh zat penyerapan berupa pita sempit pada ujung kolom dengan kecepatan yang berbeda, sehingga terjadi pemisahan dalam kolom. Hasil pemisahan ini disebut kromatogram.
Umumnya pada kromatografi kolom digunakan campuran homogen seperti campuran gas dilakukan pada suatu penyerap (absorbent). Komponen penyusun campur akan diserap oleh adsoben adalah 1 : 50.
            Metode ini dapat memisahkan zat dari 100 mg sampai 5 mg bahkan lebih. Pemisahan campuran baik bila harga Rf = 0.6. Teknik kromatografi kolom paling sesuai untuk pemisahan hasil isolasi dari pengotornya.
Pemisahan dengan kromatografi kolom biasanya digunakan absorben yang paling umum : alumunium oksida (Al2O3) yang mempunyai daya absorsi atau kereaktifan yang diatur secara cepat sehingga penggunaan memberikan hasil yang baik. Seberapa jauh komponen itu dapat diserap absorben tergantun pada sifat fisika komponen tersebut.
Bila campuran cairan dilakukan dengan kolom yang berisikan absorben, komponen cairan lainya akan mengalir kebawah . Jadi semakin lemah kemungkinan cairan itu teradsopsi semakin cepat komponen itu mengalir ke bawah. Bila kecepatan gerak cairan itu lebih besar dari pada kecepatran absorbsi oleh absorben.
Prinsip kerja kromatografi kolom adalah dengan adanya perbedaan daya serap dari masing-masing komponen, campuran yang akan diuji, dilarutkan dalam sedikit pelarut lalu di masukan lewat puncak kolom dan dibiarkan mengalir kedalam zat menyerap. Senyawa yang lebih polar akan terserap lebih kuat sehingga turun lebih lambat dari senyawa non polar  terserap lebih lemah dan turun lebih cepat. Zat yang di serap dari larutan secara sempurna oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada kolom. Pelarut lebih lanjut / dengan tanpa tekanan udara masin-masing zat akan bergerak turun dengan kecepatan khusus sehingga terjadi pemisahan dalam kolom.
Kromatografi kolom dilihat dari jenis fasa diam dan fasa geraknya dapat dibedakan :
·         Kromatografi Fase Normal
Kromatografi dengan kolom konvensional dimana fase diamnya “normal” bersifat polar, misalnya silica gel, sedangkan fase geraknya bersifat non polar.
·         Kromatografi Fase Terbalik
Kromatografi dengan kolom yang fase diamnya bersifat non polar, sedangkan fase geraknya bersifat polar; kebalikan dari fase normal.
Cara pengisian kolom terbagi dua , yaitu :
1.  Cara basah
-          Isi dasar kolom dengan kapas
-          Masukkan eluen
-          Campurkan dengan rata sebagai adsorben dan eluen menjadi homogen
-          Jangan tersentuh atau diguncangkan ± 6 jam
-          Setelah stabil, masukkan eluen dan zat, lalu keluarkan eluen
2.   Cara kering
-          Isi tabung dengan kapas
-          Masukkan eluen
-          Masukkan adsorben kering sedikit demi sedikit
-          Lalu di aduk


Faktor yang mempengaruhi kecepatan gerak zat:
       -  Daya serap adsorben.
       -  Sifat pelarut.
       -  Suhu sistem kromotografi.
Kecepatan turunan sampel dipengaruhi oleh :
·         Tekanan didalam kolom semakin besar semakin cepat.
·         Panjang absorben, makin panjan makin cepat turunnya senyawa.
·         Ukuran artikel absorben.
·         Rongga udara dalam absorben.
·         Jika ada rongga udara dalam adsorben maka jalannya senyawa akan       terganggu.
Faktor yang mempengaruhi proses pemisahan:
-          Daya serap adsoben.
-          Jenis / sifat eluen.
-          Suhu kromatografi.
-          Pelarut yang digunakan.


III. PROSEDUR KERJA
3.1  Alat dan Bahan
Adapun bahan-bahan dan peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
a.       Alat
Ø  Kolom kromatografi, alat gelas berupa kolom sebagai tempat fase diam dan media proses kromatografi.
Ø  Botol vial, botol kecil dengan volume 10 mL sebagai wadah penampung hasil pemisahan.
Ø  Standar dan klem, sebagai alat bantu untuk rangkaian alat kromatografi.
Ø  Gelas piala, sebagai wadah pelarut.
Ø  Batang pengaduk dan corong, sebagai alat bantu untuk mengalirkan pelarut ketika memasukkannya ke dalam kolom.
b.      Bahan
Ø  Hasil ekstrak buah naga (pada objek sokletasi) sebagai sampel uji.
Ø  Silika sebagai bahan untuk fase diam.
Ø  Eluent / fase gerak, berupa campuran heksan dengan etil asetat dengan perbandingan tertentu.
Ø  Kapas, sebagai bahan pembatas dan penahan pada serbuk silika




IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
 4.1     Hasil dan Data
Dari praktikum Kromatografi Kolom yang dilakukan didapatkan data-data sebagai berikut :
Ø  Sampel             : ekstrak buah naga (hasil dari objek sokletasi).
Ø  Jenis Eluen      : campuran heksan dengan etil asetat, dengan sistem SGP
                          (step gradien polarity)
Tabel Pengamatan.

No.
Perbandinga Heksan : Etil Asetat
Warna Zat
1
10:0
bening
2
8:2
bening
3
6:4
Orange muda
4
4:6
orange muda
5
2:8
orange
6
0:10
orange



4.2 Pembahasan
Pemisahan ekstrak buah naga ini dilakukan dengan metode kromatografi kolom, dengan sistem pelarut SGP (Step Gradieny Polarity). Langkah ini diambil karena belum diketahui jenis eluen yang cocok dengan pemisahan ini.
Sistem pelarut SGP dilakukan dengan cara menggantikan / mengubah kepolaran dari eluen yang digunakan secara bertahap. Eluen tersebut merupakan campuran dua jenis pelarut dengan kepolaran berbeda. Dengan mengubah perbandingan campurannya kita dapat menggeser tingkat kepolaran dari eluen ini. Pada pengerjaannya di awali dengan satu jenis pelarut yaitu berupa heksan saja, kemudian digeser tingkat kepolarannya dengan mencampurkannya dengan pelarut etil asetat. Pencampuran dilakukan dengan perbandingan yang divariasikan secara bertahap, hingga diakhiri dengan hanya menggunakan etil asetat saja sebagai eluen. Dengan ini diharapkan dapat memberikan pemisahan yang lebih baik.
Eluen dialirkan untuk pemisahan komponen dengan kecepatan alir sekitar 100 tetesan per menitnya. Aliran eluen diatur agar tidak terlalu cepat agar komponen dapat terpisah dengan. Alirannya pun diusahakan tidak terlalu lambat agar proses tidak terlalu lama. Eluen mengalir mengelusi sampel menyusuri fase diam di sepanjang kolom dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Dengan adanya perubahan tingkat kepolaran secara bertahap, keterikatan komponen terhadap pelarut dan keterikatan masing-masing komponen terhadap fase diam akan berubah-ubah, sesuai dengan sifat-sifat masing-masing komponen.. Komponen ini dibawa oleh pelarut dan tertampung pada vial penampung. Hasil pemisahan dapat diakumulasikan dan masih dalam keadaan terlarut dalam pelarut. Kita bisa saja mendapatkan komponen murninya dengan pemekatan, meskipun hasilnya tidak terlalu banyak.
Untuk lebih memastikan tingkat kemurnian dari hasil pemisahan dapat kita uji dengan metode Kromatografi Lapisan Tipis. Hasil yang ada pada masing-masing vial tersebut kita uji dengan KLT sehingga bisa kita lihat apakah pada masing-masing benar-benar hanya mengandung satu komponen.
Kelebihan dari metode ini jika dibandingkan dengan KLT adalah bahwa kita dapat melakukan pemisahan untuk sampel dengan jumlah yang lebih banyak. Di samping itu, kita juga bisa memperoleh hasil pemisahan tersebut dan menampungnya.
Proses pemisahan pada kromatografi kolom ini bisa dikatakan sebagai bentuk sederhana dari teknik kromatografi yang dilakukan dengan instrument kinerja tinggi. Kita juga bisa melakukan pemisahan dengan jenis eluen lain, atau dengan jenis absorben lainnya. Kolom di sini hanya sebatas berfungsi sebagai wadah. Bahan yang digunakan sebagai fase diam dapat berupa macam, baik itu dengan memanfaatkan prinsip partisi ataupun absorbsi.

V.  KESIMPULAN DAN SARAN
 5.1     Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum ini dapat disimpulkan bahwa dengan kromatografi kolom kita dapat memisahkan komponen penyusun dari suatu sampel bahan alam.  Hasil pemisahannya disimpan dalam 6 botol vial secara terpisah untuk masing-masing jenis eluen.
5.2     Saran
Belum dapat dipastikan apakah pada masing-masing vial benar-benar hanya terdapat satu jenis komponen. Untuk lebih memastikan kita dapat menguji masing-masing vial dengan menggunakan metode Kromatografi Lapisan Tipis.


Tugas Sebelum Pratikum
1.      Bagaimana cara memilih eluen untuk kromatografi kolom?
Jawab :
Dengan meneteskan pada plat lapis tapis, jika KLT hasilnya bagus dari totolan suatu zat dan berbentuk bulatan maka eluen tersebut baik untuk kromatografi kolom.
2.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses pemisahan?
Jawab :
-          Pemilihan adsorben sebagai fase diam
-          Kepolaran pelarut yang akan dipisahkan
-          Laju elusi atau aliran fase gerak
3.      Jelaska metoda pengelusian yang digunakan pada kromatografi kolom!
Jawab :
a.       Step graden polarity, dimana noda yang tampak sehingga hasil kromatografi kolom pada plat KLT sangat berdekatan.
b.      Kokratik, dimana noda yang tampak sehingga hasil kromatografi kolom pada plat KLT berimpit dengan kepolaran.                      

DAFTAR PUSTAKA

       1.html

       kromatografi




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar